Pagi itu, suasana hatiku lagi diguyur
beranekaragam permasalahan emergency, sehingga perasaanku dipenuhi rasa
kegundahan. Sebut saja, beras sudah mau beranjak dari target makan. Dompet lagi
tak bersahabat dengan duit. Pakaian lagi numpuk di atas tikar yang hendak
berteriak mau dicuci. Sepeda motor mau dipenuhi kebutuhannya karena jarum
dibarumeter minyaknya sudah berada di daerah low, itu menandakan sudah sangat
haus akan bensin. Belum lagi tugas kampus yang berebutan mau di kerjakan. Udah
selesai yang satu, yang lain masi ngantri, layaknya dikantor camat ketika
ngantri pembuatan KTP. Dan pada saat seruwet itu sempat terbesit dalam benakku
bait syair seorang penyair terkenal ‘hidup segan matipun tak mau’.
Di saat suasana
separah itu, aku mencoba untuk menenangkan diri. Aku duduk termenung sendiri
sambil melihat orang-orang yang lalu lalang di jalan di dekat kosku. Tiba-tiba
saja suasana berubah drastis disaat kedua bola mataku tak sengaja memandang
seorang gadis yang sedang berjalan,
mamakai jilbab biru, dengan jepitan bros indah di samping kiri atas kepalanya,
membawa tas warna pink, mengayunkan langkahnya senada dengan aura
kecantikannya. Tangannya yang memegang HP di ayunkan seirama dengan ketukan
langkahnya. Sungguh aku terkagum, sekagum-kagumnya. Malaikat apa yang menemani
ia berjalan.........? malaikat apa yang mendekorasikan kecantikan wajahnya..........?
suara hatiku terus bertanya-tanya dalam hatiku sambil membuat folder baru
khusus untuk file wajahnya dalam memori hatiku.
Setelah shalat
isya’, aku mencoba merebahkan sekujur tubuhku di atas sehelai tikar berwarna
merah dengan bantal berwarna biru, karena merasa kecape’an setelah pakaianku
habis ku cuci. Tiba-tiba saja perasaanku kedatangan bayangan yang tak pernah ku
undang. Ternyata bayangan itu adalah wajah gadis di pagi hari yang pernah
mengubah suasana pagiku menjadi serba menyenangkan. Pikiran dan prasaanku
menyatu, terbang, melayang mengobrak-abrik file-file wajahnya yang tersimpan
dalam memori hatiku. File-file wajahnya jelas terlihat di mataku. Bayangan itu
terus menerus dan menghantui pikiran dan perasaanku hingga aku terjebak dalam
kekaguman dan kerinduan yang mendalam. Pikiran dan perasaanku kaku, tunduk,
pada slide-slide bayangan wajahnya. Yang pada akhirnya deringan suara alarm di
dekatku menyadarkanku, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Hingga
akupun tersadar ternyata bayangannya mampu menghipnotisku sehingga pikiran dan
perasaanku terbang, melayang dalam ruang khayalan bagai kan layang layang di
atas udara .
0 komentar:
Plaas 'n opmerking