Makalah
METODOLOGI STUDI ISLAM
“Pendekatan
Antropologi”
Diajukan untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah
Metodologi Studi Islam yang Dibina oleh
Rendra Khaldun, M.Ag
OLEH:
YULI SUSANTI NIM. 15.3.11.1.075
FARIDATUL AINI NIM. 15.3.11.1.0
MASTUR NIM. 15.3.11.1.0
JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN
ISLAM (KPI)
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) MATARAM
2012
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan kapada Allah
SWT.yang telah melimpahkan karunia-Nya kepada penulis, sehingga makalah ini
dapat diselsaikan. Shalawat serta salam
semoga senantiasa tercurahkan kapada junjungan alam baginda Nabi Muhammad SAW.
Karena hanya dengan jasa-jasa beliaulah sehingga kita bisa menikmati, nikmatnya
iman dan islam.
Makalah ini penulis susun sebagai
salah syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Jurnalistik.Penulis
menyadari sepenuhnya bahwa dalam menyusun makalah ini penulis tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak.Oleh karena itu, pada kesempatan ini perkenankanlah penulismengucapkan
rasa terima kasih penulis kepada:
1.
Bapak Rendra Khaldun, M.Ag selaku dosen
Pengampu mata kuliah Metodologi Studi Islam atas
segala bimbingan, pengarahan
dan waktu serta motivasinya bagi penulis.
2. Singkatnya
ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada teman-teman dan semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini baik secara material atau
dalam bentuk sumbangan moril.
Di antara keistimewaan yang mungkin
ada dalam makalah ini, tentunya juga terselip beberapa atau bahkan banyak
kesalahan dan kekurangan yang penulis lakukan baik secara sengaja atau tidak penulis
sengaja. Melalui kesempatan ini pula penulismengharapkan dan senantiasa akan
menerima kritik atau saran dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya, hanya ini yang dapat penulis
sampaikan sebagai pengantar dari makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat,
dan dapat dijadikan sebagai bahan penambah ilmu pengetahuan bagi kita
semua.Amin.
Mataram,...29
November 2012
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL.......................................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penulisan Makalah...................................................................
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan Makalah................................................................................
BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Jurnalistik Islam..............................................................................
2.2 Perkembangan Jurnalistik Islam.................................................................
2.3 Urgensitas Jurnalistik Islam........................................................................
2.4 Spesifikasi Jurnalistik Islam........................................................................
2.5 Problematika Jurnalistik Islam....................................................................
2.6 Wartawan Muslim, Sifat, dan Kewajiban.........................................................
BAB III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan ...............................................................................................
3.2 Kritik dan Saran................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mengkaji fenomena keagamaan berarti
mempelajari perilaku manusia dalam kehidupan beragamanya.Fenomena keagamaan itu
sendiri merupakan perwujudan dari sikap dan perilaku manusia yang menyangkut
hal-hal yang dipandang suci, keramat, yang berasal dari kegaiban. Ilmu
pengetahuan social dengan cara atau metode, teknik dan peralatannya
masing-masing dapat mengamati dengan cermat perilaku manusia itu sehingga
menemukan segala unsur yang menjadi komponen terjadinya perilaku tersebut.
Antropologi memperhatikan terbentuknya pola-pola perilaku itu dalam tatanan
nilai-nilai yang dianut dalam kehidupan manusia.
Masalah keagamaan sebagaimana
masalah kehidupan lainnya, adalah masalah yang selalu hadir dalam kehidupan
manusia sepanjang zaman.Perilaku hidup beragama yang tersebar luas di permukaan
bumi telah menjadi bagian dari kehidupan kebudayaan yang dapat dikembangkan
dalam aneka corak yang khas antara suatulingkup social budaya yang satu dengan
lingkup social budaya lainnya.
Fenomena agama adalah fenomena universal
manusia. Karena sifat universalitas agama dalam masyarakat, maka kajian tentang
masyarakat tidak akan lengkap tanpa melihat agama sebagai salah satu faktornya.
Seringkali kajian tentang politik, ekonomi dan perubahan sosial dalam suatu
masyarakat melupakan keberadaan agama sebagai salah satu faktor
determinan.Tidak mengherankan jika hasil kajiannya tidak dapat menggambarkan
realitas sosial yang lebih lengkap.
Pernyataan
bahwa agama adalah suatu fenomena abadi di dalam di sisi lain juga memberikan gambaran
bahwa keberadaan agama tidak lepas dari pengaruh realitas di sekelilingnya.
Seringkali praktik-praktik keagamaan pada suatu masyarakat dikembangkan dari
doktrin ajaran agama dan kemudian disesuaikan dengan lingkungan
budaya.Pertemuan antara doktrin agama dan realitas budaya terlihat sangat jelas
dalam praktik ritual agama. Dalam Islam, misalnya saja perayaan Idul Fitri di
Indonesia yang dirayakan dengan tradisi sungkeman-bersilaturahmi kepada yang
lebih tua-adalah sebuah bukti dari keterpautan antara nilai agama dan
kebudayaan. Pertautan antara agama dan realitas budaya dimungkinkan terjadi
karena agama tidak berada dalam realitas yang vakum-selalu original.Mengingkari
keterpautan agama dengan realitas budaya berarti mengingkari realitas agama sendiri
yang selalu berhubungan dengan manusia, yang pasti dilingkari oleh budayanya.
Dalam memahami agama, pendekatan antropologi dapat dilakukan dengan
melihat wujud dari praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam
masyarakat.Melalui pendekatan ini agama nampak akrab dan dekat dengan
masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan
jawabannya.Antropologi dalam kaitan ini lebih mengutamakan pengamatan langsung
yang cenderung bersifat partisipatif dan mengambil kesimpulan-kesimpulan yang
bersifat induktif untuk mengimbangi kesimpulan yang bersifat deduktif.
1.2 Rumusan Masalah
Dariuraianyangtelahdisampaikan pada latar belakang di atas, maka dalam
makalah ini penulis mencoba untuk mengelaborasi pendekatan antropologis dalam
studi Islam dalam melihat fenomena keberagamaan manusia dengan menitikberatkan
kajian berkisar pengertian antropologi dan Sejarahnya, dan pendekatan utama
antropologi, aplikasi pendekatan antropologi dalam kajian Islam dan umat Islam,
tokoh dan karya utama antropologis tentang islam, gagasan islamisasi
antropologis.
1.3 Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Antropologi dan Sejarahnya
Secara etimologis, Antropologi tersusun dari terma Latin anthropos yang
artinya manusia, dan terma Yunani logos yang berarti “kata” atau “berbicara”.
Antropologi berarti: “berbicara tentang manusia”. Sedangkan menurut
Koentjaraningrat mengartikan antropologi sebagai; ilmu tentang manusia, yang
pada awalnya diartikan ilmu tentang ciri-ciri manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, antropologi diartikan sebagai:
Ilmu tentang manusia khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik,
adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau.
Mempelajari ilmu antropologi merupakan hal yang tidak kalah pentingnya
dengan yang lain. Antropologi adalah ilmu yang memandang manusia dilihat dari
aspek budaya atau asal-usulnya. Dengan mempelajari antropologi, bisa mengetahui
tentang kebudayaan manusia dalam berbagai kurun dan waktu, juga bisa memprediksi
kebudayaan yang akan terjadi.
Antropologi pertama kali dipergunakan oleh kaum Misionaris dalam rangka
penyebaran agama Nasrani dan bersamaan dengan itu pula berlangsung sistem
penjajahan terhadap negar-negara diluar Eropa.
Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat
ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di
Eropa. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat
tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama,
Koentjaraninggrat menyusun perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat
fase sebagai berikut:
1. Fase Pertama (Sebelum Tahun 1800-An)
Sekitar abad
ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia.
Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia.Dalam penjelajahannya
mereka banyak menemukan hal-hal baru.Mereka juga banyak menjumpai suku-suku
yang asing bagi mereka.Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian
mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan.Mereka mencatat segala
sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut.Mulai dari ciri-ciri
fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku
tersebut.Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian
dikenal dengan bahan etnogragfi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.
Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa.Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar.Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.
2. Fase Kedua (Tahun 1800-An)
Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa.Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar.Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.
2. Fase Kedua (Tahun 1800-An)
Pada fase
ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan
berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan
kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama.
Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif
yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tingg ikebudayaannya.
Pada fase
ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan
kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang
tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.
3. Fase Ketiga (Awal Abad Ke-20)
Pada fase
ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain
seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun
koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa
asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa
serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara
Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian
menaklukannya.Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi
tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan
kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.
Pada fase
ini, Antropologi berkembang secara pesat.Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli
yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.
Pada masa ini pula
terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II.Perang ini membawa banyak
perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di
dunia kepada kehancuran total.Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan,
kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.
Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang
dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan.Sebagian dari bangsa-bangsa
tersebut berhasil mereka.Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam
terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.
Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi
tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada
suku bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.http://id.wikipedia.org/wiki/Antropologi).
2.2 Pendekatan Antropologi
Antropologi, sebagai sebuah ilmu
yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami
agama.Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk
dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang
holistik dan komitmen antropology akan pemahaman tentang manusia, maka
sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama
dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya. Nurcholish Madjid mengungkapkan
bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam, karena
konsep manusia sebagai 'khalifah' (wakil Tuhan) di bumi, misalnya, merupakan
simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam.
Pendekatan antropologis dalam memahami agama
dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agana dengan cara melihat
wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui
pendekatan ini, agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang
dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawanannya. Dengan
kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologis dalam
melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. Antropologi dalam
kaitan ini sebagaimana dikatakan Powam Rahardjo, lebih mengutamakan pengamatan
langsung, bahkan sifatnya partisipatif.Prof. Dr. H. Abuddin Noto, M.A., Metodologi
Studi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 35
Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa
sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana
memahami manusia.Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan
agama yang sebenarnya.
Penjelasan lain misalnya yang diungkapkan oleh Emile Durkheim tentang
fungsi agama sebagai penguat solidaritas sosial, atau Sigmund Freud yang
mengungkap posisi penting agama dalam penyeimbang gejala kejiwaan manusia,
sesungguhnya mencerminkan betapa agama begitu penting bagi eksistensi manusia.
Walaupun harus disadari pula bahwa usaha-usaha manusia untuk menafikan agama
juga sering muncul dan juga menjadi fenomena global masyarakat.Dua sisi kajian
ini-usaha untuk memahami agama dan menegasi eksistensi agama-sesungguhnya
menggambarkan betapa kajian tentang agama adalah sebagai persoalan universal
manusia.
Mengutip Max Weber bahwa manusia adalah makhluk yang terjebak dalam
jaring-jaring (web) kepentingan yang mereka buat sendiri, maka budaya adalah
jaring-jaring itu.Geertz kemudian mengelaborasi pengertian kebudayaan sebagai
pola makna (pattern of meaning) yang diwariskan secara historis dan tersimpan
dalam simbol-simbol yang dengan itu manusia kemudian berkomunikasi, berperilaku
dan memandang kehidupan.Oleh karena itu analisis tentang kebudayaan dan manusia
dalam tradisi antropologi tidaklah berupaya menemukan hukum-hukum seperti di
ilmu-ilmu alam, melainkan kajian interpretatif untuk mencari makna (meaning).
Dipandang dari makna kebudayaan yang demikian, maka agama sebagai sebuah
sistem makna yang tersimpan dalam simbol-simbol suci sesungguhnya adalah pola
makna yang diwarisi manusia sebagai ethos dan juga worldview-nya
."
Bagi Geertz agama telah memberikan karakter yang khusus bagi manusia yang
kemudian mempengaruhi tingkah laku kesehariannya.Di samping itu agama
memberikan gambaran tentang realitas yang hendak dicapai oleh manusia.Berdasar
pada pengertian ini agama sebagai ethos telah membentuk karakter yang khusus
bagi manusia, yang kemudian dia bisa memenuhi gambaran realitas kehidupan
(worldview) yang hendak dicapai oleh manusia.
Pandangan Durkheim mengenai makna dan fungsi ritual dalam masyarakat
sebagai suatu aktifitas untuk mengembalikan kesatuan masyarakat mengilhami para
antropolog untuk menerapkan pandangan ritual sebagai simbol.
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai
salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan
yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama
tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan
berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan
dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula
untuk memahami agama.
Melalui pendekatan antropologis di atas, maka melihat bahwa agama ternyata
berkorelasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam
hubungan ini, jika ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang maka
dapat dilakukan dengan cara mengubah pandangan keagamannya. Ibid, h. 35-36
Selanjutnya, melalui pendekatan antropologi ini, dapat melihat agama
adalah hubungannya dengan mekanisasi pengorganisasi (social organization) juga tidak kalah menarik untuk diketahui oleh
para peneliti sosial agama. Khusus di Indonesia, karya Clifford Geertz, the
religion of java dapat dijadikan contoh yang baik dalam bid ang ini. Geerts
melihat adanya klasifikasi sosial dalam masyarakat muslim di Jawa; santri,
priyayi dan abangan. Sungguh pun hasil penelitian antropologis di Jawa Timur
ini mendapat sanggahan dari berbagai ilmuwan sosial yang lain, konstruksi
stratifikasi sosial yang dikemukakannya cukup membuat orang berfikir ulang
untuk mengecek ulang keabsahannya.
Melalui pendekatan antropologis, sebagaimana tersebut di atas, terlihat
dengan jelas hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia, dan
dengan itu pula, agama terlihat akrab dan fungsional dengan berbagai fenomena
kehidupan manusia.Dengan demikian, pendekatan antropologis sangat dibutuhkan
dalam memahami ajaran agama, karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian
dan informasi yang dapat dijelaskan melalui bantuan ilmu antropologi dengan
cabang-cabangnya.
2.3 Krakteristik dan Aflikasi Pendekatan
Antropologi.
Nurcholish Majid menjelaskan
hubungan agama dan budaya.menurutnya, agama dan budaya adalah dua bidang yang
dapat dibedakantetapi tidak dapat dipisahkan.Agama bernilai mutlak, tidak
berubah karena perubahan waktu dan tempat. Sedangkan budaya, sekalipun
berdasarkan agama,dari waktu ke waktudan dari tempat ketempat. Sebagian besar
budaya didasarkan pada agama tidak pernah terjadi sebaliknya.Oleh karna itu,
agamaadalah primer dan budaya adalah sekunder.Budaya bias merupakan ekspresi hidup keagamaan,karna
ia subordinat terhadap agama, dan tidak pernah sebaliknya.
Dalam pandangan Harun Nasution ,
agama pada hakikatnya mengandung dua kelompok ajaran. Kelompok pertama, ajaran
dasar yang diwahyukan tuhanmelalui para
rasulnya kepada masyarakat manusia. Ajaran dasar ini terdapat dalam kitab-kitab
suci. Ajaran-ajaran yang terdapat dalamkitab-kitab suci itu memerlukan
penjelasan, baik mengenai arti maupun cara pelaksanaannya.
Penjelasan-penjelasan ini diberikan oleh para pemuka atau ahliagama.penjelasan
penjelasanmereka terhadap ajaran dasar agama adalah kelompok kedua dari ajaran
agama.
Berbeda dengan Cliford Geertz
menggambarkan kepercayaan masyarakat pada dunia metafisik, seperti kepercayaan
masyarakat terhadap memedi, lelembut dan demit. Di samping itu ia juga
menjelaskan tentang upacara atau selametan yang berhubungan dengan kelahiran,
yaitu tingkeban (upacara yang dilakukan ketika istri telah hamil tujuh bulan)
brokokan (upacara kelahiran itu sendiri) dan l;ain sebagainya.
Secara sederhana, dengan mengutip
Cilford Geertz yang disederhanakan oleh Cristian Snouck Hurgronje, Howard M.
federspiel, menjelaskan bahwa slametan bias diberikan hamper pada setiap
peristiwa : kelahiran, perkawinan, sihir, kematian,pindah rumah, mimpi buruk,
panen, pergantintian nama, pembukaan pabrik, sakit, permohonan kepada roh
pelindung desa, khitanan. Dan permulaan pertemuan politik.
Meskipun sekarang ini sedang
memasuki zaman teknik (modern) tidak lama lagi akan memasuki millennium ketiga,
keberagaman kita tidak sepenuhnya dapat lepas dari pengaruh sinkretikyang
diwariskan oleh para pendahulu kita. Secara kelembagaan, Muhammadiyah dan
Persis berusaha melakukan pembaruan dengan melepaskan umat dari
pengaruh-pengaruh non islam. Akan tetapi gerakan ini mendapat tantangan dari
kalangan nadliyin(NU) yang cendrung mentolerir dan melestarikan
kebiasaan-kebiasaan tersebut.
Sekarang ini baik diperkotaan maupun
dipedesaan kita masih menyaksikan upacara-upacara seperti.amaliah keagamaan
kita di masyarakat dapat dilihat dari upacara nujuh bulan dengan menyediakan
makanan kecil yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar. Upacara
kelahiran yang biasanya dilakukan seminggusetelah melahirkan dan sekaligus
memberi nama anak yang dilahirkan dengan membaca al barzanji.
Begitu juga dengan upacara kematian,
di daerah betawi terdapat tradisi yang sangatberbeda dengan tradisi di bandung.
Di betawi apabila seorang menoinggal, keluarga tersebut menyelenggarakan
pembacaan Al Qur’anyang lamanyabergantung pada usia yang meninggal dan kelas
ekonomo keluarga yang meninggal.
Lain halnya dengan kebiasaan di
Bandung Timur. Upacara yang berhubungan dengan kematian seseorang dilakukan
apabila ekonomi keluarga yang meninggal itu termasuk kelas menengah ke atas,
keluarga yang ditinggalkan menyembelih kerbau kemudian daging kerbau tersebut
di bagikan kepada masyarakat sekitar.
Dalam merespon tradisi yang
berkembang di masyarakattersebut secara umum, umat islam dapatdibedakan menjadi
dua: pertama “kaum tua”. Dan kedua “kaum muda”.Kaum muda adalah ulama pendukung
perubahan-perubahan radikal dalam pemikiran dan praktik keagamaan di nusantara.
Sedang kan kaum tua adalah ulama yang menentang perubahan-perubahan yang
berkembang yang dikembangkan oleh “kaum muda” dan mempertahankan system
keagamaan di Indonesia yang di nilai telah mapan.
Kaum tua meyakini bhwa kebenaran
yang di kemukakan dalam ajaran-ajaran ulama besar zaman klasik dan zaman
pertengahan seperti Al Ghazali. Al-Asy’ari dan Al-Maturidi dalam bidang
teologi, dan imam-imam dari mazhab-mazhab besar dalam bidang hokum islam tidak
berubah. . bagi kaum tua kebenaran tidak perlu dikaji ulang, sebab kebenaran
tidak pernah diubah karna perubahan waktu dan kondisi ( Howard M.
Faederspiel,1996:60). Kaum tua menegaskan bahwa agama dipelajarimelalui hapalan
di pondok-pondok pesanteren, ia tidak bias salah, dan tidak boleh ditentukan
oleh penelitian akal. Konbsekuensinya adalah setiappenolakan terhadap bagian
dari agama, dianggap menolak agama itu sendiri.Mereka menuduh kaum muda sebagai
orang kafir dan terkutuk.kondisi( Howard M. Faederspiel,1996:61).
Sedangkan kaum muda bersikap
sebaliknya.Mereka menentang keras praktik-praktik tasawuf, ketaatan kepada
mazhab-mazhab teologi dan hokum Islam, upacara ritualyang tidak otoritatif dan
do’a yang dimaksudkan untuk mengantarkan roh yang baru meninggal dunia.( Howard
M. Faederspiel,1996:60). Karena sikap itulah,kaummuda antara lainAhmad Dahlan
pendiri Muhammadiyah digambarkan oleh kaum tua sebagaiseorang wahabi,yang tlah
menyimpang dari Ahlusunnah wal jamaah,menolakmazhab-mazhab menghancurkan agama.
Begitulah pertentanganulama Indonesia dalam merespon tradisi yang berkembang di
masyarakat.Dengan masih berkembangnya tradisi-tradisi yang tlah disebutkan
diatas terutama dalam praktik keagamaan masyarakat di pedesaan, menunjukkan
dominisai kaumtua masih cukup lestari dan masih cukup luas.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Uraian di atas memperlihatkan bahwa
sesungguhnya pemahaman agama tidak akan lengkap tanpa memahami realitas manusia
yang tercermin dalam budayanya. Posisi penting manusia dalam Islam seperti
digambarkan dalam proses penciptaannya yang ruhnya merupakan tiupan dari ruh
Tuhan memberikan indikasi bahwa manusia menempati posisi penting dalam
mengetahui tentang Tuhan. Dengan demikian pemahaman agama secara keseluruhan
tidak akan tercapai tanpa memahami separuh dari agama yaitu manusia. Barangkali
tidak berlebihan untuk menyebut bahwa realitas manusia sesungguhnya adalah
realitas ketuhanan yang empiris.Di sinilah letak pentingnya kajian antropologi
dalam mengkaji Islam.Sebagai ilmu yang mengkhususkan diri mempelajari
manusia-yang merupakan realitas empiris agama-maka antropologi juga merupakan
separuh dari ilmu agama itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
0 komentar:
Plaas 'n opmerking