pendekatan antropologi

on Saterdag 18 Mei 2013

Makalah

METODOLOGI STUDI ISLAM
“Pendekatan Antropologi”



Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Metodologi Studi Islam yang Dibina oleh
Rendra Khaldun, M.Ag



OLEH:

YULI SUSANTI                                    NIM. 15.3.11.1.075
FARIDATUL AINI                     NIM. 15.3.11.1.0
MASTUR                                      NIM. 15.3.11.1.0



JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM (KPI)
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
2012
KATA PENGANTAR

          Puji Syukur penulis panjatkan kapada Allah SWT.yang telah melimpahkan karunia-Nya kepada penulis, sehingga makalah ini dapat  diselsaikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kapada junjungan alam baginda Nabi Muhammad SAW. Karena hanya dengan jasa-jasa beliaulah sehingga kita bisa menikmati, nikmatnya iman dan islam.
          Makalah ini penulis susun sebagai salah syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Jurnalistik.Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam menyusun makalah ini penulis tidak lepas dari bantuan berbagai pihak.Oleh karena itu, pada kesempatan ini perkenankanlah penulismengucapkan rasa terima kasih penulis kepada:
1.      Bapak Rendra Khaldun, M.Ag selaku dosen  Pengampu mata kuliah Metodologi Studi Islam atas  segala  bimbingan,  pengarahan  dan  waktu  serta motivasinya bagi penulis.
2.      Singkatnya ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini baik secara material atau dalam bentuk sumbangan moril.
            Di antara keistimewaan yang mungkin ada dalam makalah ini, tentunya juga terselip beberapa atau bahkan banyak kesalahan dan kekurangan yang penulis lakukan baik secara sengaja atau tidak penulis sengaja. Melalui kesempatan ini pula penulismengharapkan dan senantiasa akan menerima kritik atau saran dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini.
          Akhirnya, hanya ini yang dapat penulis sampaikan sebagai pengantar dari makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat, dan dapat dijadikan sebagai bahan penambah ilmu pengetahuan bagi kita semua.Amin.

                                    Mataram,...29 November 2012

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.......................................................................................... i
KATA PENGANTAR.....................................................................................      ii
DAFTAR ISI...................................................................................................      iii
BAB I.   PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Penulisan Makalah...................................................................
1.2  Rumusan Masalah.............................................................................................
1.3  Tujuan Penulisan Makalah................................................................................

BAB II.  PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Jurnalistik Islam..............................................................................
2.2  Perkembangan Jurnalistik Islam.................................................................
2.3  Urgensitas Jurnalistik Islam........................................................................
2.4  Spesifikasi Jurnalistik Islam........................................................................
2.5  Problematika Jurnalistik Islam....................................................................
2.6  Wartawan Muslim, Sifat, dan Kewajiban.........................................................

BAB III.            PENUTUP
3.1  Kesimpulan  ...............................................................................................
3.2  Kritik dan Saran................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA









BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Mengkaji fenomena keagamaan berarti mempelajari perilaku manusia dalam kehidupan beragamanya.Fenomena keagamaan itu sendiri merupakan perwujudan dari sikap dan perilaku manusia yang menyangkut hal-hal yang dipandang suci, keramat, yang berasal dari kegaiban. Ilmu pengetahuan social dengan cara atau metode, teknik dan peralatannya masing-masing dapat mengamati dengan cermat perilaku manusia itu sehingga menemukan segala unsur yang menjadi komponen terjadinya perilaku tersebut. Antropologi memperhatikan terbentuknya pola-pola perilaku itu dalam tatanan nilai-nilai yang dianut dalam kehidupan manusia.
            Masalah keagamaan sebagaimana masalah kehidupan lainnya, adalah masalah yang selalu hadir dalam kehidupan manusia sepanjang zaman.Perilaku hidup beragama yang tersebar luas di permukaan bumi telah menjadi bagian dari kehidupan kebudayaan yang dapat dikembangkan dalam aneka corak yang khas antara suatulingkup social budaya yang satu dengan lingkup social budaya lainnya.
            Fenomena agama adalah fenomena universal manusia. Karena sifat universalitas agama dalam masyarakat, maka kajian tentang masyarakat tidak akan lengkap tanpa melihat agama sebagai salah satu faktornya. Seringkali kajian tentang politik, ekonomi dan perubahan sosial dalam suatu masyarakat melupakan keberadaan agama sebagai salah satu faktor determinan.Tidak mengherankan jika hasil kajiannya tidak dapat menggambarkan realitas sosial yang lebih lengkap.
Pernyataan bahwa agama adalah suatu fenomena abadi di dalam di sisi lain juga memberikan gambaran bahwa keberadaan agama tidak lepas dari pengaruh realitas di sekelilingnya. Seringkali praktik-praktik keagamaan pada suatu masyarakat dikembangkan dari doktrin ajaran agama dan kemudian disesuaikan dengan lingkungan budaya.Pertemuan antara doktrin agama dan realitas budaya terlihat sangat jelas dalam praktik ritual agama. Dalam Islam, misalnya saja perayaan Idul Fitri di Indonesia yang dirayakan dengan tradisi sungkeman-bersilaturahmi kepada yang lebih tua-adalah sebuah bukti dari keterpautan antara nilai agama dan kebudayaan. Pertautan antara agama dan realitas budaya dimungkinkan terjadi karena agama tidak berada dalam realitas yang vakum-selalu original.Mengingkari keterpautan agama dengan realitas budaya berarti mengingkari realitas agama sendiri yang selalu berhubungan dengan manusia, yang pasti dilingkari oleh budayanya.
Dalam memahami agama, pendekatan antropologi dapat dilakukan dengan melihat wujud dari praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.Melalui pendekatan ini agama nampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.Antropologi dalam kaitan ini lebih mengutamakan pengamatan langsung yang cenderung bersifat partisipatif dan mengambil kesimpulan-kesimpulan yang bersifat induktif untuk mengimbangi kesimpulan yang bersifat deduktif.

1.2 Rumusan Masalah
Dariuraianyangtelahdisampaikan pada latar belakang di atas, maka dalam makalah ini penulis mencoba untuk mengelaborasi pendekatan antropologis dalam studi Islam dalam melihat fenomena keberagamaan manusia dengan menitikberatkan kajian berkisar pengertian antropologi dan Sejarahnya, dan pendekatan utama antropologi, aplikasi pendekatan antropologi dalam kajian Islam dan umat Islam, tokoh dan karya utama antropologis tentang islam, gagasan islamisasi antropologis.

1.3 Tujuan






BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Antropologi dan Sejarahnya
Secara etimologis, Antropologi tersusun dari terma Latin anthropos yang artinya manusia, dan terma Yunani logos yang berarti “kata” atau “berbicara”. Antropologi berarti: “berbicara tentang manusia”. Sedangkan menurut Koentjaraningrat mengartikan antropologi sebagai; ilmu tentang manusia, yang pada awalnya diartikan ilmu tentang ciri-ciri manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, antropologi diartikan sebagai: Ilmu tentang manusia khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau.
Mempelajari ilmu antropologi merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dengan yang lain. Antropologi adalah ilmu yang memandang manusia dilihat dari aspek budaya atau asal-usulnya. Dengan mempelajari antropologi, bisa mengetahui tentang kebudayaan manusia dalam berbagai kurun dan waktu, juga bisa memprediksi kebudayaan yang akan terjadi.
Antropologi pertama kali dipergunakan oleh kaum Misionaris dalam rangka penyebaran agama Nasrani dan bersamaan dengan itu pula berlangsung sistem penjajahan terhadap negar-negara diluar Eropa.
Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama,
Koentjaraninggrat menyusun perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat fase sebagai berikut:
1. Fase Pertama (Sebelum Tahun 1800-An)
Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia.Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru.Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka.Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan.Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut.Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut.Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnogragfi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.
Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa.Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar.Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.

2. Fase Kedua (Tahun 1800-An)
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tingg ikebudayaannya.
Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.

3. Fase Ketiga (Awal Abad Ke-20)
Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya.Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.
Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat.Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.
Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II.Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total.Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.
Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan.Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut berhasil mereka.Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.
Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.http://id.wikipedia.org/wiki/Antropologi).

2.2 Pendekatan Antropologi
            Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama.Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropology akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam, karena konsep manusia sebagai 'khalifah' (wakil Tuhan) di bumi, misalnya, merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam.
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agana dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini, agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawanannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologis dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Powam Rahardjo, lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif.Prof. Dr. H. Abuddin Noto, M.A., Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 35
Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia.Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya.
Penjelasan lain misalnya yang diungkapkan oleh Emile Durkheim tentang fungsi agama sebagai penguat solidaritas sosial, atau Sigmund Freud yang mengungkap posisi penting agama dalam penyeimbang gejala kejiwaan manusia, sesungguhnya mencerminkan betapa agama begitu penting bagi eksistensi manusia. Walaupun harus disadari pula bahwa usaha-usaha manusia untuk menafikan agama juga sering muncul dan juga menjadi fenomena global masyarakat.Dua sisi kajian ini-usaha untuk memahami agama dan menegasi eksistensi agama-sesungguhnya menggambarkan betapa kajian tentang agama adalah sebagai persoalan universal manusia.
Mengutip Max Weber bahwa manusia adalah makhluk yang terjebak dalam jaring-jaring (web) kepentingan yang mereka buat sendiri, maka budaya adalah jaring-jaring itu.Geertz kemudian mengelaborasi pengertian kebudayaan sebagai pola makna (pattern of meaning) yang diwariskan secara historis dan tersimpan dalam simbol-simbol yang dengan itu manusia kemudian berkomunikasi, berperilaku dan memandang kehidupan.Oleh karena itu analisis tentang kebudayaan dan manusia dalam tradisi antropologi tidaklah berupaya menemukan hukum-hukum seperti di ilmu-ilmu alam, melainkan kajian interpretatif untuk mencari makna (meaning).
Dipandang dari makna kebudayaan yang demikian, maka agama sebagai sebuah sistem makna yang tersimpan dalam simbol-simbol suci sesungguhnya adalah pola makna yang diwarisi manusia sebagai ethos dan juga worldview-nya
." Bagi Geertz agama telah memberikan karakter yang khusus bagi manusia yang kemudian mempengaruhi tingkah laku kesehariannya.Di samping itu agama memberikan gambaran tentang realitas yang hendak dicapai oleh manusia.Berdasar pada pengertian ini agama sebagai ethos telah membentuk karakter yang khusus bagi manusia, yang kemudian dia bisa memenuhi gambaran realitas kehidupan (worldview) yang hendak dicapai oleh manusia.
Pandangan Durkheim mengenai makna dan fungsi ritual dalam masyarakat sebagai suatu aktifitas untuk mengembalikan kesatuan masyarakat mengilhami para antropolog untuk menerapkan pandangan ritual sebagai simbol.
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.Dengan  kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama.
Melalui pendekatan antropologis di atas, maka melihat bahwa agama ternyata berkorelasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini, jika ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang maka dapat dilakukan dengan cara mengubah pandangan keagamannya. Ibid, h. 35-36
Selanjutnya, melalui pendekatan antropologi ini, dapat melihat agama adalah hubungannya dengan mekanisasi pengorganisasi (social organization)  juga tidak kalah menarik untuk diketahui oleh para peneliti sosial agama. Khusus di Indonesia, karya Clifford Geertz, the religion of java dapat dijadikan contoh yang baik dalam bid ang ini. Geerts melihat adanya klasifikasi sosial dalam masyarakat muslim di Jawa; santri, priyayi dan abangan. Sungguh pun hasil penelitian antropologis di Jawa Timur ini mendapat sanggahan dari berbagai ilmuwan sosial yang lain, konstruksi stratifikasi sosial yang dikemukakannya cukup membuat orang berfikir ulang untuk mengecek ulang keabsahannya.
Melalui pendekatan antropologis, sebagaimana tersebut di atas, terlihat dengan jelas hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia, dan dengan itu pula, agama terlihat akrab dan fungsional dengan berbagai fenomena kehidupan manusia.Dengan demikian, pendekatan antropologis sangat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama, karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan melalui bantuan ilmu antropologi dengan cabang-cabangnya.

2.3 Krakteristik dan Aflikasi Pendekatan Antropologi.
            Nurcholish Majid menjelaskan hubungan agama dan budaya.menurutnya, agama dan budaya adalah dua bidang yang dapat dibedakantetapi tidak dapat dipisahkan.Agama bernilai mutlak, tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat. Sedangkan budaya, sekalipun berdasarkan agama,dari waktu ke waktudan dari tempat ketempat. Sebagian besar budaya didasarkan pada agama tidak pernah terjadi sebaliknya.Oleh karna itu, agamaadalah primer dan budaya adalah sekunder.Budaya  bias merupakan ekspresi hidup keagamaan,karna ia subordinat terhadap agama, dan tidak pernah sebaliknya.
            Dalam pandangan Harun Nasution , agama pada hakikatnya mengandung dua kelompok ajaran. Kelompok pertama, ajaran dasar  yang diwahyukan tuhanmelalui para rasulnya kepada masyarakat manusia. Ajaran dasar ini terdapat dalam kitab-kitab suci. Ajaran-ajaran yang terdapat dalamkitab-kitab suci itu memerlukan penjelasan, baik mengenai arti maupun cara pelaksanaannya. Penjelasan-penjelasan ini diberikan oleh para pemuka atau ahliagama.penjelasan penjelasanmereka terhadap ajaran dasar agama adalah kelompok kedua dari ajaran agama.
            Berbeda dengan Cliford Geertz menggambarkan kepercayaan masyarakat pada dunia metafisik, seperti kepercayaan masyarakat terhadap memedi, lelembut dan demit. Di samping itu ia juga menjelaskan tentang upacara atau selametan yang berhubungan dengan kelahiran, yaitu tingkeban (upacara yang dilakukan ketika istri telah hamil tujuh bulan) brokokan (upacara kelahiran itu sendiri) dan l;ain sebagainya.
            Secara sederhana, dengan mengutip Cilford Geertz yang disederhanakan oleh Cristian Snouck Hurgronje, Howard M. federspiel, menjelaskan bahwa slametan bias diberikan hamper pada setiap peristiwa : kelahiran, perkawinan, sihir, kematian,pindah rumah, mimpi buruk, panen, pergantintian nama, pembukaan pabrik, sakit, permohonan kepada roh pelindung desa, khitanan. Dan permulaan pertemuan politik.
            Meskipun sekarang ini sedang memasuki zaman teknik (modern) tidak lama lagi akan memasuki millennium ketiga, keberagaman kita tidak sepenuhnya dapat lepas dari pengaruh sinkretikyang diwariskan oleh para pendahulu kita. Secara kelembagaan, Muhammadiyah dan Persis berusaha melakukan pembaruan dengan melepaskan umat dari pengaruh-pengaruh non islam. Akan tetapi gerakan ini mendapat tantangan dari kalangan nadliyin(NU) yang cendrung mentolerir dan melestarikan kebiasaan-kebiasaan tersebut.
            Sekarang ini baik diperkotaan maupun dipedesaan kita masih menyaksikan upacara-upacara seperti.amaliah keagamaan kita di masyarakat dapat dilihat dari upacara nujuh bulan dengan menyediakan makanan kecil yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar. Upacara kelahiran yang biasanya dilakukan seminggusetelah melahirkan dan sekaligus memberi nama anak yang dilahirkan dengan membaca al barzanji.
            Begitu juga dengan upacara kematian, di daerah betawi terdapat tradisi yang sangatberbeda dengan tradisi di bandung. Di betawi apabila seorang menoinggal, keluarga tersebut menyelenggarakan pembacaan Al Qur’anyang lamanyabergantung pada usia yang meninggal dan kelas ekonomo keluarga yang meninggal.
            Lain halnya dengan kebiasaan di Bandung Timur. Upacara yang berhubungan dengan kematian seseorang dilakukan apabila ekonomi keluarga yang meninggal itu termasuk kelas menengah ke atas, keluarga yang ditinggalkan menyembelih kerbau kemudian daging kerbau tersebut di bagikan kepada masyarakat sekitar.
            Dalam merespon tradisi yang berkembang di masyarakattersebut secara umum, umat islam dapatdibedakan menjadi dua: pertama “kaum tua”. Dan kedua “kaum muda”.Kaum muda adalah ulama pendukung perubahan-perubahan radikal dalam pemikiran dan praktik keagamaan di nusantara. Sedang kan kaum tua adalah ulama yang menentang perubahan-perubahan yang berkembang yang dikembangkan oleh “kaum muda” dan mempertahankan system keagamaan di Indonesia yang di nilai telah mapan.
            Kaum tua meyakini bhwa kebenaran yang di kemukakan dalam ajaran-ajaran ulama besar zaman klasik dan zaman pertengahan seperti Al Ghazali. Al-Asy’ari dan Al-Maturidi dalam bidang teologi, dan imam-imam dari mazhab-mazhab besar dalam bidang hokum islam tidak berubah. . bagi kaum tua kebenaran tidak perlu dikaji ulang, sebab kebenaran tidak pernah diubah karna perubahan waktu dan kondisi ( Howard M. Faederspiel,1996:60). Kaum tua menegaskan bahwa agama dipelajarimelalui hapalan di pondok-pondok pesanteren, ia tidak bias salah, dan tidak boleh ditentukan oleh penelitian akal. Konbsekuensinya adalah setiappenolakan terhadap bagian dari agama, dianggap menolak agama itu sendiri.Mereka menuduh kaum muda sebagai orang kafir dan terkutuk.kondisi( Howard M. Faederspiel,1996:61).
            Sedangkan kaum muda bersikap sebaliknya.Mereka menentang keras praktik-praktik tasawuf, ketaatan kepada mazhab-mazhab teologi dan hokum Islam, upacara ritualyang tidak otoritatif dan do’a yang dimaksudkan untuk mengantarkan roh yang baru meninggal dunia.( Howard M. Faederspiel,1996:60). Karena sikap itulah,kaummuda antara lainAhmad Dahlan pendiri Muhammadiyah digambarkan oleh kaum tua sebagaiseorang wahabi,yang tlah menyimpang dari Ahlusunnah wal jamaah,menolakmazhab-mazhab menghancurkan agama. Begitulah pertentanganulama Indonesia dalam merespon tradisi yang berkembang di masyarakat.Dengan masih berkembangnya tradisi-tradisi yang tlah disebutkan diatas terutama dalam praktik keagamaan masyarakat di pedesaan, menunjukkan dominisai kaumtua masih cukup lestari dan masih cukup luas.





























BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Uraian di atas memperlihatkan bahwa sesungguhnya pemahaman agama tidak akan lengkap tanpa memahami realitas manusia yang tercermin dalam budayanya. Posisi penting manusia dalam Islam seperti digambarkan dalam proses penciptaannya yang ruhnya merupakan tiupan dari ruh Tuhan memberikan indikasi bahwa manusia menempati posisi penting dalam mengetahui tentang Tuhan. Dengan demikian pemahaman agama secara keseluruhan tidak akan tercapai tanpa memahami separuh dari agama yaitu manusia. Barangkali tidak berlebihan untuk menyebut bahwa realitas manusia sesungguhnya adalah realitas ketuhanan yang empiris.Di sinilah letak pentingnya kajian antropologi dalam mengkaji Islam.Sebagai ilmu yang mengkhususkan diri mempelajari manusia-yang merupakan realitas empiris agama-maka antropologi juga merupakan separuh dari ilmu agama itu sendiri.
















DAFTAR PUSTAKA
Abd. Hakim Atang dan Jaih Mubarok.

0 komentar:

Plaas 'n opmerking